Senin, 08 Oktober 2012

Praktikum II Sifat Kimia Senyawa Klor

Selasa, 09 Oktober 2012


I.   Tujuan
  • Mengetahui kelarutan dan stabilitas garam klorida
  • Mempelajari pembentukan kompleks logam transisi dengan ion klorida
II.  Dasar Teori
     Unsur-unsur halogen dapat diidentifikasi warn adan sifatnya. Misalnya Cl: berupa gas kuning kehijauan pada suhu kamar, non-polar, kelarutan dalam air kecil dan larut dalam pelarut non-polar.
     Semua halogen dapat mengoksidasi air menjadi gas O2 dan bukan merupakan oksidator kuat. Larutan halogen tidak stabil karena cenderung mengalami auto-oksidasi atau auto-reduksi, proses ini disebut disporposionasi:
2 Cl2(aq) + 2 H2O  HClO(aq) + 2HCl(aq)
Pada reaksi tersebut Cl2 mengalami reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl). Ion ClO merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO berbeda dengan Cl-sebab asam hipoklorit, HclO adalah asam lemah dan ion ClO- adalah basa yang cukup kuat.
     Klor digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk sehari-hari. Klor digunakan untuk menghasilkan air minum yang aman hampir diseluruh dunia. Bahkan, kemasan air terkecilpun sudah terklorinasi.
    Klor juga digunakan secara besar-besaran pada proses pembuatan kertas, zat pewarna, tekstil, produk olahan minyak bumi, obat-obatan, antiseptik, intektisida, makanan, pelarut, cat, plastik, dan banyak produk lainnya.
Ion klorida membentuk endapan  dengan ion-ion Ag+, Pb+, dan Hg+ berperan sebagai igan dalam pembentukan kompleks yang diambil melalui perubahan warna dan melarutnya endapan atau padatan.
   Kebanyakan klor diproduksi untuk digunakan dalam pembuatan senyawa klorin untuk sanitasi, pemutihan kertas, desinfektan dan proses tekstil. Lebih jauh lagi, klor digunakan untuk pembuatan klorat, kloroform, karbon tetrakorida dan ekstraksi brom.
   Pemutih klorin (bleaching agent) mengandung larutan hipoklorit (NaOCl), ion ClO-merupakan suatu oksidator, daya oksidasinya sama dengan klorin namun ion ClO-berbeda dengan Cl‑ sebab asam hipoklorit, HclO adalah asam lemah dan ion ClO- adalah basa yang cukup kuat, sedangkan Cl- mempunyai sifat netral dan merupakan basa konjugasi dari HCl kuat. Ion klorida membentuk endapan dengan ion-ion Ag+, Pb+, dan Hg+, berperan sebagai ligan dalam pembentuka kompleks yang diamati melalui perubahan warna dan melarutnya endapan atau padatan.

III.   Alat dan Bahan
       Alat 
       -     Pipet tetes
       -     Rak tabung reaksi
       -     Gelas ukur
       -     Tabung reaksi
      Bahan 
       -     NaCl 0,1 M
       -     AgNO3 0,1 M
       -     NH3 6M
       -     CuSO4 0,1 M
       -     Lakmus merah biru
       -     NaOCl 5% ( baycline)
       -     NaOH 6 M
       -     KI 0,1 M
       -     KBr 0,1 M
       -     n-heksana atau petroleum eter
       -     HCl pekat

IV. Cara Kerja
1 ion Klorida (Cl-)
 a. Kelarutan dan kestabilan garam klorida


 b. Kompleks logam transisi dengan ion Cl-




 2. Ion Hipoklorit (ClO-)
a. Reaksi Lakmus



b. Reaksi dengan AgNO3
c. Daya Oksidasi

V. Hasil Pengamatan
1. Ion Klor (Cl-)
    a.  Kelarutan dan Stabilitas garam klorida
        I.     NaCl + AgNO3 à ↓ AgCl + NaNO3, terbentuk endapan putih AgCl
        II.    I + NH3 à terbentuk endapan putih dengan larutan jernih
        III.   II + HNO3 à terbentuk endapan putih dengan reaksi eksoterm (panas)
     b. Kompleks logam transisi dengan ion Cl-
          I. CuSO4 + HCl à tidak terbentuk endapan (larut), larutan berwarna hijau terjadi reaksi eksoterm
         II. I + H2O à Warna hijau lebih muda dari larutan sebelumnya dan agak bening
      III. AgNO3 + HCl à ↓ AgCl + HNO3, terbentuk endapan putih AgCl  larutannya berwarna kuning terjadi reaksi eksoterm
         IV. III + H2O à terbentuk endapan putih, larutan berwarna putih
2. Ion Hipoklorit (ClO-)
    a. Lakmus
        I. NaClO + lakmus merah à lakmus berubah warna menjadi biru kemudian menjadi putih
        II. NaClO + lakmus biru à lakmus biru tetap biru kemudian berubah menjadi putih
    b. Reaksi dengan AgNO3
        I. NaOCl + AgNO3 à terbentuk endapan putih
        II. I + HNO3 à terbentuk gas warna larutan kuning dengan endapan berwarna putih
        III. NaOH + AgNO3 à terbentuk endapan coklat tua
       IV. III + HNO3 à tidak larut, menghasilkan panas, lebih panas dari percobaan NaOCl + AgNO3 dan HNO3, larutannya bening terbentuk endapan coklat tua
     c. Daya Oksidasi Ion ClO-
         I. KI + C6H12 + NaOCl à terdapat 2 fase yang berwarna merah muda dan orange
         II. KBr + C6H12 + NaOCl à terdapat 2 fase yang berwarna putih kedua-duanya
         III. I + HCl à terbentuk menjadi 3 fase dengan warna ungu, orange dan coklat
         IV. II + HCl à terbentuk 2 fase dengan warna kuning muda dan kuning tua



VI. Pembahasan
Pada percobaan ini dilakukan pengujian sifat – sifat dari senyawa klor.  Bahan-bahan yang digunakan adalah NaCl, NaOCl, dan HCl sebagai sampel. Pada percobaan pertama, praktikan mereaksikan NaCl dengan AgNO3 yang menghasilkan reaksi pengendapan. Endapan yang terbentuk berwarna putih dan mengumpal. Endapan yang muncul adalah senyawa AgCl yang merupakan hasil reaksi. Perak klorida memiliki nilai kelarutan yang kecil, oleh karena itu terbentuklah endapan. Dapat dituliskan persamaan reaksinya adalah  

2NaCl(aq) + Ag2SO4(aq) → Na2SO4(aq) + ↓2AgCl
Setelah itu endapan AgCl ditambahkan lagi dengan larutan basa NH3 6M namun endapan tidak larut. Maka persamaan reaksinya adalah

AgCl + NH4OH →  NH4Cl + ↓ AgOH

kemudian ditambahkan larutan HNO3 kemudian terbentuk suatu gas atau uap dan larutannya menjadi bening kembali serta terbentuk endapan putih kembali. Dengan persamaan reaksinya :


AgCl  +  HNO3  →  HCl + ↓ AgNO3

        Dari hasil percobaan ini dapat disimpulkan bahwa endapan berasal ion Ag+ dan Cl- sukar larut jika ditambahkan dengan larutan asam atau pun basa maka dari itu garam klorida memilik stabilitas untuk mempertahankan endapan yang baik 

  Pada percobaan yang kedua adalah percobaan mengenai pembentukan kompleks logam transisi dengan ion Cl-. Ion kompleks memiliki ion logam dengan jumlah tertentu molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilinginya. Percobaan ini mereaksikan tembaga sulfat (CuSO4) dengan asam klorida (HCl) yang menghasilkan larutan berwarna hijau muda. .Hal ini disebabkan karena CuSO4 sendiri dapat bereaksi dengan HCl membentuk asam sulfat dan tembaga diklorida sebagai hasil sampingnya. Asam sulfat inilah yang menyebabkan warna berubah menjadi kehijauan.Ketika diencerkan dengan 5 ml H2O larutan kembali berwana hijau muda lagi. Hal ini disebabkan ketika asam sulfat dan tembaga diklorida ditambahkan dengan aquadest dapat membentuk tembaga sulfat kembali dengan asam klorida dan molekul air sebagai produk sampingnya.Sedangkan pencampuran AgNO3 dengan  HCl terbentuk endapan putih AgCl yang tidak larut dengan penambahan HCl. Persamaan reaksi

         AgNO3 + HCl  è AgCl↓ + HNO3


Percobaan ketiga, praktikan melakukan percobaan Natrium hipoklorit (NaClO) terhadap lakmus, AgNO3 dan memerhatikan daya oksidasi ClO- . Berdasarkan hasil pengamatan, kertas lakmus merah berubah menjadi warna biru dan kertas lakmus biru tetap menjadi warna biru. Hal ini menunjukkan bahwa NaClO bersifat basa. 
Selanjutnya mereaksikan NaClO dengan AgNO3 yang menunjukkan perbedaan terhadap reaksi NaCl dengan AgNO3. Reaksi NaClO dengan AgNO3 menghasilkan endapan putih tetapi ketika ditambahi HNO3 masih terbentuk endapan dan larutannya bening kekuning-kuningan, sedangkan endapan pada reaksi NaCl dengan AgNO3 yang ditambahkan HNO3 larut. Hal ini disebabkan pada Reaksi NaClO dengan AgNO3 endapannya tetap terbentuk karena adanya asam nitrat.serta reaksi NaClO dengan AgNO3  berlangsung secara eksoterm karena pada dinding tabung reaksi terasa panas dan terdapat gelembung gas. Gas yang terbentuk adalah gas oksigen dari reaksi AgNO3 dengan NaOCl. Lalu tabung yang berisikan NaOH, direaksikan dengan AgNO3 terbentuk endapan coklat dengan warna larutan bening dan setelah direaksikan dengan HNO3 endapan menjadi coklat tua dengan disertai dengan bertambahanya suhu larutan. (lebih panas dari percobaan NaOCl + AgNO3dan HNO3)
Dengan persamaan berikut :
                                                   2NaOCl + 2AgNO3 → 2AgCl↓ + 2NaNO3 + O2
                                                2HNO3 + NaOCl + AgNO3 → AgCl + NaNO3 + H2O
                                                            NaOH + AgNO3 → AgOH + NaNO3
        Pada percobaan terakhir adalah daya oksidasi ion ClO- , percobaan ini mereaksikan 2 ml larutan kalium iodida (KI), 1 ml n-heksana (C6H12) dan larutan NaClO yang menghasilkan larutan yang  terdiri dari 2 fase yang berwarna merah muda dan orange. Ketika diasamkan dengan larutan HCl, larutan berubah menjadi bentuk 3 fase dengan warna ungu, orange dan coklat. Kemudian, praktikan mereaksikan 2 ml larutan kalium bromide (KBr), 1 ml n-heksana (C6H12) dan larutan NaClO yang menghasilkan larutan berwarna putih. Ketika diasamkan dengan larutan HCl, larutan berubah bentuk menjadi 2 fase dengan warna kuning muda dan kuning tua. Hal ini menunjukkan bahwa Natrium hipoklorit mampu mereduksi iod dalam senyawa kalium iodida yang ditunjukan pada perubahan warna pada larutan n-heksana dengan kalium iodida. Hal ini disebabkan karena bilangan oksidasi klor dalam senyawa natriun hipoklorit paling  kecil sehingga ia memiliki daya oksidator yang kuat.

VII. Kesimpulan
  • Kelarutan senyawa klorida yaitu perak klorida yang terbentuk sangat kecil dan stabil.
  • Ion klorida mampu membentuk ion kompleks dengan tembaga
  • Pembentukan logam kompleks klor ditandai dengan perubahan warna.
  • Senyawa klor memiliki daya oksidasi yang kuat
  • Natrium Hipoklorit (NaOCl) bersifat basa.  
  • Pembentukan perbedaan lapisan dalam larutan hasil reaksi disebabkan oleh perbedaan kepolaran,   dan berat jenis kepolaran
VIII. Daftar Pustaka
Oxtoby, D. W., Gillis, H. P. dan Nachtrieb, N. H., 1999. Kimia Modern.  Jakarta : Erlangga
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Jilid 1. Jakarta : Kalman Media
            Pusaka.
Vogel. 1985. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Jilid 2. Jakarta : Kalman Media
            Pusaka.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_anorganik1/logam_transisi/tembaga-anorganik/ "diakses 20 Oktober 2012"

IX. Lampiran
1. Tuliskan contoh-contoh senyawa klor dengan bilangan oksidasi Cl (-1, 0, +1, +3, +4, +5, +7) dan sebutkan kegunaannya kalau ada?
Biloks
Senyawa klor
Kegunaan
-1
NaCl
sebagai bahan pengamat dan bahan campuran
0
Cl2
sebagai senjata perang pada perang dunia II
+1
NaOCl
sebagai pemutih pakaian
+3
NaClO2
sebagai pemutih dlam industri tekstil dan kertas
digunakan pada pengolahan air sebagai desinfektan
terdapat pada obat kumur dan pasta gigi
+4
NaClO3
sebagai herbisida
+5
NH4ClO4
sebagai campuran bahan bakar roket
+7
HClO4 
 Sebagai bahan desinfektan

2. Bagaimana cara membuat larutan pemutih NaClO secara komersial. Tuliskan reaksinya !
Larutan pemutih dapat dibuat dengan mereaksikan NaOH dengan gas klor (Cl2), gas klor dilewatkan kedalam larutan dingin NaOH encer pada suhu dibawah 40º C, jika suhu lebih dari 40 oC maka akan membentuk natrium klorat (NaClO3)
2NaOH + Cl2 → NaCl + NaOCl + H2O

3. Bagaimana cara zat pemutih dapat membuat pakaian kelihatan lebih putih?Zat pemutih bekerja dengan dua cara, yaitu :
a. Mengubah molekul menjadi zat yang tidak mengandung kromofor atau masih mengandung kromofor yang    tidak menyerap cahaya visible dengan cara memutuskan ikatan kimia kromofor oleh pemutih yang bersifat  oksidator.
b. Mengubah ikatan rangkap pada kromofor menjadi ikatan tunggal oleh pemutih yang bersifat rediktor.    Pemutusan ikatan rangkap ini dapat mengurangi kemampuan kromofor menyerap sinar visible.

Sabtu, 29 September 2012

Percobaan III Pembuatan Garam Mohr

Selasa, 2 Oktober 2012

Tujuan
1. Membuat garam mohr atau besi (II) ammonium sulfat (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
2. Menentukan banyaknya air kristal dalam garam mohr hasil percobaan
Dasar Teori 
Ada dua buah biji besi yang terpenting yaitu : hematit (Fe2O3) dan magnetit (Fe3O4). Dan garam besi (II) yang terpenting adalah garam adalah garam (II) sulfat yang dibuat dari pelarutan besi atau besi (II) sulfida dengan asam sulfat ence, setelah itu larutan disaring, lalu diuapkan dan mengkristal menjadi FeSO4.7H2O yang berwarna hijau. Dalam skala besar garam ini dibuat dengan cara mengoksidasi perlahan-lahan FeS oleh udara yang mengandung air.
            Garam-garam besi (II) atau fero diturunkan dari besi (II) oksidasi, FeO dalam larutan. Garam – garam ini mengandung kation Fe2+ dan berwarna sedikit hijau. Ion besi (II) dapat mudah dioksidakan menjadi besi (III), maka merupakan zat pereduksi yang kuat. Semakin kurang asam larutan itu, semakin nyatalah efeknya dalam suasana netral atau basa bahkan oksigen dari atmosfer akan mengoksidasi ion besi (II).
Garam besi (II) sulfat dapat bergabung dengan garam-garam sulfat dari garam alkali, membentuk suatu garam rangkap dengan rumus umum yang dapat digambarkan sebagai M2Fe(SO4)6H2O, dimana M merupakan simbol dari logam-logam, seperti K, Rb, Cs dan NH4. Rumus ini merupakan gabungan dua garam dengan anion yang sama atau identik yaitu M2FeSO46H2O.
Untuk garam rangkap dengan M adalah NH4, yang dibuat dalam jumlah mol besi (II) sulfat dan ammonium sulfat sama, maka hasil ini dikenal dengan garam mohr. Garam mohr dibuat dengan mencampurkan kedua garam sulfat dari besi (II) dan ammonium, dimana masing-masing garam dilarutkansampai jenuh dan besi (II) ditambahkan sedikit asam. Pada saat pendinginan hasil campuran pada kedua garam diatas akan diperoleh kristal yang berwarna hijau kebiru-biruan dengan bentuk monoklin. Garam mohr tidak lain adalah garam rangkap besi (II) sulfat dan ammonium sulfat dengan  rumus molekul (NH4)2FeSO46H2O dan (NH4)2(SO4)26H2O.
Garam mohr, besi ammonium sulfat, merupakan garam rangkap dari besi sulfat dan ammonium sulfat dengan rumus molekul [NH4]2[Fe][SO4]2.6H2O. Garam mohr  lebih disukai dari pada besi (II) sulfat untuk proses titrasi karena garam mohr tidak mudah terpengaruh oleh oksigen bebas di udara/ tidak mudah teroksidasi oleh udara bebas dibandingkan besi (II).
Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul, atau ion penyusunnya terkemas secara terartur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya bisa berupa kristal tunggal, yang semua atom-atom dalam paadatannya “terpasang’ pada kisi atau struktur kristal yang sama, tapi, secara umum, kebanyakan kristal, terbentuk secara simultan sehingga menghasilkan polikristal. Struktur kristal mana yang akan terbentuk dari suatu cairan tergantung pada kimia cairannya sendiri, kondisi ketika terjadi oemadatan, dan tekanan ambien. Proses terbentuknya struktur kristalin dikenal sebagai kristalisasi.

Alat dan Bahan
Alat :
  • Gelas piala
  • Gelas Ukur
  • Neraca
Bahan :
  • Serbuk besi atau paku
  • Asam sulfat 10%
  • amonia pekat
Prosedur Kerja
  1.  Larutan A
 


           Larutan B
        2. Larutan A dan B
HASIL PEGAMATAN
1. Larutan A


No

Langkah Kerja
Hasil
Pengamatan
1.

2.

  3.
Dilarutkan 3,5 gr besi dalam 50 ml H2SO4 10%
Disaring larutan ketika masih panas
Ditambahkan 2 mL asam sulfat pada filtrat
Larutan warna abu-abu kehitaman
Larutan berwarna biru bening
Larutan berwarna biru bening

2. Larutan B

No
Langkah Kerja
Hasil
Pengamatan
1.
Dinetralkan 100 ml H2SO410% dengan amoniak
Diuapkan larutan
Larutan bening (sampai pH = 7)

3. Campuran larutan A dan larutan B

No
Langkah Kerja
Hasil
Pengamatan
1
2
3
Dicampurkan larutan A dan B ketika masih panas
Dipisahkan larutan dengan endapan yang terbentuk dengan kertas saring
Ditimbang kristal yang diperoleh
Larutan berwarna hijau muda dengan endapan putih
Terbentuk kristal-kristal garam
m = 9,62 gram

Berat garam mohr yang didapatkan dari percobaan sebesar 9,62 gram

PERHITUNGAN
Massa kertas saring (b) = 0,96 gram
Massa hasil penyaringan (a) = 9,62 gram
Massa garam Mohr      = a – b
= 9,62 – 0,96
= 8,66 gram
Massa besi (Fe)  = 3,05 gram
BM besi (Fe)  = 55,85 gram/mol
BM garam Mohr  = 392 gram/mol
mol Fe             = mol garam Mohr
= massa Fe / BM Fe
= 3,05 gram / 55,85 gram/mol
= 0,055 mol
massa garam Mohr (teori)       = mol garam Mohr x BM garam Mohr
= 0,055 x 392
= 21,56 gram






PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini membahas mengenai pembuatan garam mohr. Garam mohr dibuat dari reaksi besi dengan asam sulfat dan larutan amoniak. Besi yang digunakan dalam percobaan ini adalah serbuk besi. Penggunaan serbuk besi dengan tujuan mempercepat reaksi, karena laju reaksi berbanding lurus dengan luas permukaan zat. Dan percobaan ini semuanya dilakukan didalam lemari asam karena menggunakan bahan-bahan yang pekat dan aroma yang akan membahayakan praktikan.
Langkah pertama yaitu membuat larutan A dengan cara mereaksikan besi dengan H2SO4 kemudian dipanaskan untuk menghilangkan gas H2 dan mempercepat pembentukan ion Fe2+ yang ditandai dengan terbentuknya hablur berwarna kehijauan. Setelah serbuk besi larut dan disaring dengan kertas saring dan corong, filtrat yang dihasilkan ditambahkan sedikit H2SO4 pekat. Kemudian dipanaskan lagi untuk menghilangkan pengotor dan mengkristalkan larutan. Tujuan dari penyaringan adalah untuk menghindari terbentuknya kristal pada suhu yang rendah dan tujuan dari pemanasan adalah sebagai katalis (mempercepat terjadinya reaksi) sehingga hampir semua besi dapat melarut. Larutan ini terus diuapkan dengan tujuan untuk mengurangi molekul air yang ada pada larutan. Adapun reaksi yang terjadi :
Fe(s) + H2SO4(aq) à FeSO4(aq) + H2(g)
Langkah kedua yaitu membuat larutan B dengan cara menetralkan H2SO4 dengan NH3, sehingga dihasilkan larutan (NH4)2SO4 dengan pH = 7 (netral). Untuk mengetahui larutan telah netral, digunakan kertas indikator universal. Proses penetralan H2SO4 cukup sulit karena menetralkan larutan asam kuat yang pekat menjadi netral. Penambahan NH3 untuk penetralan H2SO4 pekat menghabiskan 125 ml NH3. Setelah larutan ini netral kemudian dipanaskan sampai jenuh (volume menjadi kurang lebih 17,5 ml) dengan tujuan untuk menguapkan NH3 yang mungkin tidak bereaksi dengan H2SO4. Adapun reaksi yang terjadi :
2NH3(aq) + H2SO4(aq) à (NH4)2SO4(aq)
Langkah selanjutnya adalah mencampurkan larutan A dan B. Pencampuran larutan A dengan B hingga terbentuk larutan berwarna jernih kehijauan (telah terbentuk garam mohr). Larutan ini kemudian didinginkan sehingga terbentuk kristal garam mohr berupa kristal monoklin yang berwarna hijau kebiruan karena adanya Fe dengan (NH4)2SO4 yang membentuk senyawa kompleks, dengan reaksi sebagai berikut :
FeSO4 + (NH4)2SO4 + 6H2O à (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
            Garam mohr yang dihasilkan dalam percobaan kali ini adalah 9,62 gram, sedangkan menurut hasil perhitungan teoritis seharusnya mencapai 21,56 gram. Sehingga kemurnian garam mohr yang didapatkan adalah 59,83%. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, diantaranya adalah serbuk besi yang belum larut 100%, kurangnya waktu pemanasan, adanya kerak pada saat pemanasan, dan kesalahan praktikan yang kurang teliti.







KESIMPULAN
  • Garam mohr merupakan senyawa kompleks besi dengan ligan amonium dan sulfat dengan rumus (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O
  • Pembuatan garam mohr dilakukan dengan cara kristalisasi, yaitu melalui penguapan, dan didapatkan kristal berwarna hijau kebiruan
  • Garam mohr yang terbentuk adalah 9,62 gram dengan kemurnian 59,83%
DAFTAR PUSTAKA
Chalid, Sri Yadial. 2011. Penuntun Praktikum Kimia Anorganik. Jakarta : UIN Syarif
                        Hidayatullah.      
Cotton and Wikinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta : UI- Press.
Svehla, G. 1990. Vogel: Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
                  Semimikro Bagian I. PT Kalman Media Pusaka. Jakarta.
http://www.scribd.com/doc/68977520/PEMBUATAN-GARAM-MOHR diakses 4 oktober 2012 20.01

LAMPIRAN
1. Apa tujuan penambahan sulfat pada filtrat?
Tujuannya untuk menghindari terbentuknya kristal pada suhu yang rendah sebagai katalis yaitu untuk mempercepat terjadinya reaksi sehingga hampir semua besi dapat larut.

2. Apa fungsi dari garam mohr?
  • Untuk membuat larutan baku Fe2+ bagi analisis volumetri
  • Sebagai zat pengkalibrasi dalam pengukuran magnetik
  • Untuk meramalkan urutan daya mengoksidasi oksidator K2Cr2O7, KMnO4 dan KBrO3 (dengan konsentrasi yang sama -0,1N) terhadap ion Fe2+.

3. Tulis semua reaksi yang terdapat pada percobaan ini!
Fe(s) + H2SO4(aq) à FeSO4(aq) + H2(g)
2NH3(aq) + H2SO4(aq) à (NH4)2SO4(aq)
FeSO4 + (NH4)2SO4 + 6H2O à (NH4)2Fe(SO4)2.6H2O